Dia?! Orang yang mampu membuatku berpikir tidak ada yang lebih menarik
daripada dia. Warna hitam di matanya adalah hitam paling sempurna yang
pernah kulihat. Tajam dan tegas, sanggup menyapu semua hal di
sekelilingnya dengan satu tatapan saja. Bibirnya sesempurna senyumannya.
Senyum yang jarang dia umbar ke orang lain. Tapi ketika dia tersenyum,
aku merasakan aliran darahku mengalir sepuluh kali lebih cepat dari
dalam jantung hingga ke ujung-ujung jariku. Mengalirkan napas-napas
pendek penuh kebahagian.
Badannya tegap. Setegap hatinya yang tampak sekokoh batu karang.
Punggungnya begitu lapang. Aku tahu, ada banyak kehangatan di punggung
yang kokoh itu. Dia benar-benar orang yang menarik. Di mataku dia
benar-benar menarik. Tapi bukan kesempurnaan fisik yang membuatku
menyukainya sejak dulu.
Aku senang melihat tingkah lakunya. Senyum dan tawa kecil selalu ada di
wajahku ketika aku melihat keisengan-keisengan yang dia lakukan bersama
teman-temannya. Dan rasa bangga selalu muncul di hatiku ketika
melihatnya belajar dan mengerjakan semua tugas sekolah dengan rapi.
Tapi sekali lagi, ternyata bukan kepribadiannya yang membuatku begitu
menyayanginya. Kesempurnaannya, timbul entah dari mana dari dalam hati
ini. Yang jelas, aku menyukainya dulu, baru aku melihat dia sebagai
orang yang sempurna. Bukan sebaliknya. Aku suka, aku sayang, aku cinta,
tidak ada alasan.
Mulai hari ini aku sadar, aku tidak bisa memandangnya lagi, melihat
punggungnya. Semuanya akan berubah dan aku yakin akan menemukan sesuatu
yang luar biasa nantinya. Entah itu dengan atau tanpannya di hadapanku.
Bagaimana caranya? Aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya hidup
tanpa bisa melihat punggung dan senyumnya. Bagaimana aku bisa berjalan
jika aku sadar tidak ada dia di sampingku? Bagaimana aku bisa menjalani
hidup yang seperti itu?
Aku benar-benar harus belajar menerima hari-hariku tanpa dia. Tempatnya
sekarang hanyalah di hatiku. Sesuatu yang tidak nyata. Hanya memori.
Yang suatu saat bisa pudar di makan waktu.
Sudah lama berlalu tapi ingatanku masih memutar memori yang sama. Memori
tentangnya. Rasa rindu membuat dadaku terasa makin sesak setiap hari.
Aku tidak menyangka akan sesulit ini melupakannya. Aku tidak menyangka
rasa cintaku akan sebesar ini. Dulu kukira ini hanya cinta monyet yang
tidak akan bertahan lama. Tapi ternyata tidak.
Wajahnya terus muncul di benakku. Setiap detik, ingatanku akan dia
sangat mengganggu konsentrasiku. Membuatku terkadang lupa apa yang mau
kulakukan selanjutnya. Dia dan harum tubuhnya meninggalkan lubang-lubang
kecil di hatiku. Lubang itu bertambah besar setiap hari ketika aku
merindukan wajahnya yang sempurna.
Saat itulah aku merasa ada yang menusuk hatiku. Wajahnya tiba-tiba
muncul di pikiranku. Membuat napasku sesak dan kepalaku jadi pusing.
Kenapa hati ini begitu sakit? Aku rasa aku telah kehilangan dia. Sejak
kejadian hari itu, dia seperti menghilang dari hidupku. Tidak ada kabar
tentang dia yang berhembus ke telingaku.
Pada saat-saat seperti ini aku baru sadar betapa aku menyayanginya.
Betapa aku merindukan dia. Betapa hidupku terasa seperti bola tanpa
udara, yang tidak bisa bergerak kemana-mana karena tidak ada dia.
Sekilas aku tampak sudah melupakan dia karena kesibukkanku. Tapi
sebenarnya, aku selalu memikirkan dia setiap detik.
Takdir seolah mempermainkanku. Diriku tidak bisa berhenti menyayanginya.
Setiap kali aku melamun, secara tak sadar tanganku menulis namanya.
Lagi dan lagi. Selalu namanya yang ada di seluruh saraf tubuhku. Rasanya
ingin menangis. Hatiku sakit. Sakit sekali rasanya, seperti ada pisau
besar yang menusuk tepat di hatiku. Untuk sesaat aku masih menutup diri.
Masih beradaptasi pada rasa sakit yang begitu keras dan menghantam
hatiku.
Aku harus kuat. Aku harus menerima kenyataan yang ada di depan mata
dengan hati besar. Semua yang terjadi di dunia ini bukan suatu
kebetulan. Semuanya sudah pada tempatnya. Dan semuanya punya maksud dan
tujuan yang baik pada akhirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar